Dua Peran, Satu Perjalanan: Menjadi Ibu Saat S3
- 17 July 2026
- 03 Mins read
Anak, atau S3 dulu?
Setelah menikah, ini pertanyaan besar kami. Kami memilih untuk mencoba memiliki anak dulu, agar nantinya si kecil sudah bisa mendampingi saat studi. Satu, dua, tiga tahun berikhtiar, ternyata Tuhan belum mengabulkan. Kamipun ubah prioritas: saya akan S3, dan suami akan S2 di kota yang sama. Soal anak, kami pasrahkan pada Tuhan sepenuhnya.
Alhamdulillah, kurang dari satu tahun, saya berhasil mendapatkan beasiswa dan LoA di University of Birmingham. Sebaliknya, suami harus berjuang lebih keras setelah dua kali gagal seleksi beasiswa.
Januari 2023, akhirnya saya berangkat ke Birmingham. Sementara suami di Jakarta, masih berusaha mengejar mimpi S2nya.
Kejutan manis dari Tuhan
Belum satu bulan di Birmingham, saya mendapat kejutan. Ternyata ada sosok mungil yang ikut menemani saya ke Birmingham. Saya hamil.
Setelah 3,5 tahun penantian, dia hadir justru saat saya baru mulai studi sendiri di negeri orang. Supervisory meeting pertama saja belum terlaksana. Saya bingung dan galau. Bagaimana saya bisa menjalani studi S3, sekaligus kehamilan pertama sendirian?
Namun kemudian, supervisor saya memberikan jawaban menenangkan yang saya butuhkan: “Prioritise your baby. Your PhD can wait.”
Saat itu juga kebingungan saya hilang. Saya memutuskan untuk melahirkan di Indonesia dengan dukungan keluarga. Namun sebelum pulang, saya harus menjalani hampir 7 bulan kehamilan di Birmingham, sendiri. Rasanya campur aduk. Saat Birmingham tiba-tiba bersalju tebal, saat teman-teman mengajak bermain salju di taman, saya mengalami pendarahan ringan dan harus bed rest. Di saat yang hampir sama, ibu mertua di Indonesia berpulang. Senang, sedih, takut, sepi, silih berganti saya rasakan.
Setiap ke kampus, saya harus berjalan menanjak dan sering berhenti di kursi taman di bawah pohon cherry blossom hanya untuk sekadar bernafas sambil mengelus perut yang semakin membesar.

Brave or bold?
Singkat cerita, saya melahirkan di Jakarta. Saat itu suami sebetulnya berniat untuk menunda S2 dan mengajukan cuti atau unpaid leave, demi mendampingi saya di Birmingham. Di luar dugaan, dia direkomendasikan resmi oleh atasannya untuk kembali mengikuti seleksi beasiswa. Akhirnya, di percobaan ketiga, suami berhasil lolos untuk S2 di University of Birmingham.
Masalahnya, saya harus kembali ke Inggris tiga bulan sebelum studi suami dimulai.
I was a new mom and not ready to be separated from my baby. Saya nekad kembali ke Birmingham berdua dengan anak saya yang belum genap satu tahun. Saya menjalani peran ganda sendirian: memasak, mencuci, memandikan anak, menyusui, sekaligus melanjutkan riset S3. Saya bekerja di malam hari atau saat subuh karena waktu siang habis untuk mengurus anak. Saya sempat merasa tersesat dalam riset saya sendiri. Di tambah, anak saya sedang membutuhkan perhatian penuh. Selama sebulan saya menjalaninya sendiri, sampai ibu saya akhirnya terbang ke Inggris untuk menemani sebelum suami datang. Ternyata, setelah menjadi ibu pun saya tetap membutuhkan ibu. Terima kasih, Ibu.
Saya juga harus berdamai dengan realitas: saya tidak bisa menjadi mahasiswa yang ambisius. Di saat orang lain aktif mengikuti berbagai konferensi dan kegiatan akademik, saya harus puas dengan jam kerja yang terbatas. Rumah sering berantakan, dan progres riset mungkin tidak secepat rekan lainnya. But that’s okay. Mungkin saya gila atau terlalu nekat, tapi berkat itu, saya bisa memberikan ASI hingga dua tahun dan menyaksikan langkah pertama anak saya saat dia mulai belajar berjalan.
Berat? Sangat. Menyesal? Tidak sama sekali. Saya sangat bersyukur tidak harus memilih antara impian atau anak. Saya bisa merengkuh keduanya dengan cara saya sendiri.
Babak baru
Setelah suami datang, semua beban terasa lebih ringan walau tetap menantang karena dia juga kuliah full-time. Kami harus bergantian ke kampus dan menjaga anak, lalu begadang bersama untuk mengejar progres studi masing-masing. Berat, tapi berjuang bersama rasanya jauh lebih menyenangkan.
Saat ini suami sudah menyelesaikan S2nya. Apakah dia akan kembali ke Birmingham untuk menemani saya sampai lulus? Harapannya tentu iya, tapi sejujurnya saya tidak tahu pasti. Banyak hal terjadi di luar rencana dan kuasa kami. Kami terus mengusahakan untuk bisa selalu bersama, namun pada akhirnya, kami memasrahkan segalanya kepada Tuhan.
Selama ini Tuhan selalu mengirimkan pertolongan di tengah kerumitan kondisi kami: suami yang mau ikut berjuang, supervisor yang suportif, ibu yang masih sehat dan bisa hadir, hingga teman-teman Indonesia di Birmingham yang sangat baik. Sekarang, di saat rencana kami lagi-lagi diuji, saya percaya dengan ikhtiar, berserah, dan Ikhlas terhadap skenario Allah, kami akan kembali diberikan jalan terbaik. Sesuai janji-Nya, “sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6).
Dari perjalanan ini saya belajar bahwa menjadi ibu sambil menempuh S3 menuntut saya untuk menurunkan ego dan ambisi. Tesis yang bagus itu bukan yang sempurna, tapi yang selesai. Saya juga belajar bahwa it’s okay to ask for help. Saya tidak harus menanggung semuanya sendirian. Menerima bantuan adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan.
Saya percaya keputusan untuk hadir dan memberikan kasih sayang langsung kepada anak adalah investasi yang tidak ternilai. After all, I’m a parent doing a PhD. Not a PhD student doing parenting.