Menjadi orang tua, menjadi peneliti
- 17 July 2026
- 07 Mins read
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, dan saya baru saja berhasil menidurkan anak. Saya segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk tiga hari ke depan. Sambil memasak, pikiran saya dipenuhi oleh berbagai hal yang masih harus diselesaikan: tenggat tulisan yang harus dikirimkan kepada para pembimbing, daftar belanja pakaian yang dibutuhkan anak menjelang musim dingin, serta tagihan penitipan anak yang sebentar lagi harus dibayar. Pikiran saya penuh dan mata saya terasa berat, tetapi tangan saya harus terus bergerak agar masakan dapat segera selesai. Mungkin, setelah semuanya beres, saya masih memiliki sedikit waktu untuk membaca beberapa halaman artikel jurnal penting untuk writing session besok.
Malam-malam seperti ini cukup sering terjadi sejak saya menjadi mahasiswa PhD di Inggris. Berbeda dengan sebagian kolega yang masih lajang atau belum memiliki anak, waktu saya harus dibagi di antara tanggung jawab sebagai mahasiswa, istri, dan ibu. Dua puluh empat jam dalam sehari tidak pernah terasa cukup untuk menyelesaikan semua hal yang harus dilakukan. Dalam waktu yang cukup lama, saya sering merasa bahwa saya tidak menjalankan satu pun dari peran tersebut dengan cukup baik. Saya merasa kurang sebagai seorang istri, orang tua, kolega, dan peneliti.
Pada tahun 2023, saya mengikuti sebuah program Coaching untuk PGR Parents (mahasiswa PhD yang memiliki kewajiban sebagai orang tua) yang didanai oleh GW4 . Dalam program tersebut, saya bertemu dengan para PhD mothers lain yang juga mengalami kesulitan dan perasaan yang serupa. Pada saat itulah saya memahami bahwa apa yang saya alami bukanlah sekedar masalah saya sendiri. Pengalaman tersebut merupakan bagian dari realitas para PhD mothers yang masih jarang dibicarakan: perjuangan menyeimbangkan peran sebagai orang tua, pasangan, dan peneliti, di tengah terbatasnya pengakuan dan dukungan yang diterima dari universitas.
Setelah program pendampingan tersebut berakhir, empat peserta, termasuk saya, memutuskan untuk mengajukan pendanaan lanjutan dari GW4. Tujuan kami adalah melakukan sebuah penelitian berskala kecil mengenai pengalaman dan tantangan PhD parents di empat universitas di wilayah Inggris Barat Daya dan Wales, yaitu Bristol, Bath, Cardiff, dan Exeter. Selama sembilan bulan, dari September 2024 hingga Juni 2025, kami melakukan studi berbasis dokumen, survei, dan menyelenggarakan dua kegiatan hybrid yang mempertemukan para PhD parents dan staf universitas untuk berbagi pengalaman, membahas tantangan yang dihadapi, serta langkah-langkah perbaikan ke depan .
Sejumlah tema penting muncul dari penelitian ini, sebagaimana dibahas selanjutnya. Perlu dipahami bahwa karena penelitian tersebut berfokus pada PhD parents di wilayah Inggris Barat Daya dan Wales, temuannya tidak dapat dianggap mewakili pengalaman seluruh orang tua PGR di Inggris Raya. Meskipun demikian, hasil penelitian ini memberikan gambaran yang penting mengenai tantangan yang lazim dihadapi oleh PhD parents, khususnya para ibu.
Keterbatasan Waktu
Seperti yang tergambar dalam kisah saya sebelumnya, banyak PhD parents dalam survei melaporkan perasaan seolah-olah mereka terus-menerus harus “mengejar ketertinggalan” karena mereka tidak selalu dapat memusatkan perhatian sepenuhnya pada studi. PhD parents mau tidak mau harus membagi waktu dengan keluarga, baik itu dengan bekerja mengikuti jadwal sekolah anak, memanfaatkan waktu di pagi hari sebelum anak bangun, atau malam hari setelah anak tidur. Selain itu, karena keterbatasan waktu ini, banyak peserta survey melaporkan bahwa mereka hampir tidak memiliki kesempatan untuk merawat diri. Keseluruhan situasi ini akhirnya berkontribusi terhadap tingginya tingkat stres dan kelelahan yang dirasakan para peserta.
Tantangan Finansial
Biaya hidup di Inggris tidak dapat dikatakan murah. Selain sewa rumah, tagihan utilitas, dan kebutuhan makanan, biaya pengasuhan anak dapat menambah tekanan finansial keluarga secara signifikan. Sekolah negeri memang tersedia secara gratis bagi anak-anak berusia empat tahun ke atas. Namun, karena jam kerja orang tua sering kali lebih panjang daripada jam sekolah, mereka mungkin tetap perlu membayar layanan pengasuhan tambahan (wraparound care) sebelum atau sesudah sekolah. Bagi anak-anak berusia di bawah empat tahun, nursery atau tempat penitipan anak biasanya menjadi pilihan utama dengan biaya yang perlu dibayarkan cukup tinggi. Pemerintah Inggris menyediakan subsidi sebesar 15 jam pengasuhan anak per minggu bagi anak yang telah mencapai usia tiga tahun ke atas. Namun, bahkan setelah potongan dari subsidi tersebut diperhitungkan, orang tua masih harus menanggung biaya sekitar £210 hingga £280 per minggu (biaya bisa berbeda-beda tergantung wilayah dan jenis nursery). Sejumlah peserta survei melaporkan bahwa mereka menjalani pekerjaan paruh waktu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga selama menempuh studi. Namun, pilihan ini tentu saja menambah tekanan bagi PhD parents yang sejak awal sudah memiliki keterbatasan waktu.
Tidak selalu bisa mengikuti kegiatan di kampus
Banyak PhD parents yang memilih untuk mengorbankan peluang untuk mengikuti kegiatan sosial, networking, atau pengembangan karir yang dilakukan secara luring (offline), terutama yang dijadwalkan di luar jam sekolah, berlangsung selama liburan sekolah, atau berbenturan dengan tanggung jawab pengasuhan lain. Banyak pula yang memilih untuk bekerja dari rumah, karena hal itu memudahkan pembagian waktu antara pengasuhan dan mengerjakan penelitian. Oleh karena itu, pertemuan secara daring (online) sangat dihargai PhD parents karena memberikan fleksibilitas yang lebih besar. Namun, pola kerja jarak jauh dan hybrid ini juga memiliki tantangan tersendiri. Bekerja sambil tetap aktif mengasuh anak berarti menerima kenyataan bahwa akan sering terjadi gangguan, sehingga konsentrasi menjadi sulit dipertahankan.
Tantangan bagi mahasiswa PhD Internasional
Dalam analisis penelitian ini, kami tidak memisahkan pengalaman antara mahasiswa PhD internasional dan mereka yang berasal dari Inggris. Namun, berdasarkan pengalaman saya sendiri, situasi yang dihadapi mahasiswa internasional jauh lebih sulit. Pindah ke negara baru berarti meninggalkan support network seperti keluarga dekat, sekaligus harus menyesuaikan diri dengan budaya dan cara hidup yang berbeda. Bagi orang tua, proses transisi menjadi cukup berat. Informasi mengenai sekolah, nursery, dan akses layanan Kesehatan melalui NHS tidak selalu diberikan secara jelas dan mudah oleh universitas. Akibatnya, PhD Parents internasional harus mencari sendiri informasi tersebut.
Mencari tempat tingal merupakan tantangan besar lainnya, terutama pada awal masa studi. Ketersediaan akomodasi keluarga yang dikelola Universitas umumnya sangat terbatas. Sedangkan untuk mendapatkan private housing, mahasiswa sering kali diminta untuk memberikan bukti tambahan yang menunjukkan bahwa kemampuan membayar sewa saat menjalani studi sambil membawa keluarga. Dalam banyak kasus, hal ini berarti harus membayar sewa untuk beberapa bulan sekaligus di muka. Bahkan ketika persyaratan finansial dapat dipenuhi, mendapatkan tempat tinggal tetaplah tidak mudah karena sebagian pemilik properti enggan menyewakan rumah kepada mahasiswa yang telah berkeluarga dan memiliki anak.
Pengalaman yang Dipengaruhi oleh Gender
Hal penting lainnya yang terlihat dari hasil penelitian kami adalah bahwa para PhD mothers tampak menunjukkan perhatian dan kekhawatiran yang lebih besar terhadap tantangan menjalani studi sambil mengasuh anak dibandingkan para ayah. Meskipun penelitian ini dirancang untuk melibatkan PhD mothers and fathers, jumlah peserta perempuan jauh lebih banyak daripada peserta laki-laki. Misalnya saja, dari 111 responden survei, hanya 11 orang yang merupakan ayah. Ketimpangan ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa jumlah PhD fathers lebih sedikit. Tetapi jumlah ini dapat mengindikasikan bahwa para ibu lebih banyak merasakan dampak pengasuhan terhadap studi mereka dan karena itu lebih terdorong untuk membicarakan pengalaman tersebut.
Percakapan dengan beberapa PhD fathers menunjukkan bahwa mereka tidak selalu memandang tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang berkaitan langsung dengan identitas mereka sebagai peneliti doktoral, sebagaimana yang lebih sering dirasakan oleh para ibu. Suami saya sendiri, misalnya, juga merupakan orang tua PGR, dan kami memulai studi PhD pada waktu yang sama. Ia adalah suami yang sangat baik dan ayah yang terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak. Namun baginya, kehidupan akademik dan perannya sebagai ayah dapat berjalan sebagai dua bagian yang relatif terpisah.
Bagi saya, kedua identitas tersebut hampir tidak pernah dapat dipisahkan. Peran sebagai ibu memengaruhi kapan dan di mana saya bekerja, berapa lama saya dapat berkonsentrasi, kesempatan apa saja yang dapat saya ambil, serta bagaimana perasaan saya ketika harus menghabiskan waktu jauh dari anak-anak. Dengan demikian, pengalaman menjadi PhD parents tampaknya merupakan pengalaman yang dipengaruhi oleh gender. Zhao et al. (2026) menemukan bahwa menjadi orang tua tidak memengaruhi perjalanan akademik perempuan dan laki-laki dengan cara yang sama. Penelitian mereka menunjukkan bahwa para ibu sering menanggung lebih banyak pekerjaan domestik dan kehilangan lebih banyak waktu penelitian penelitian, sementara para ayah cenderung lebih mampu mempertahankan produktivitas akademiknya. Bagi perempuan, menjadi orang tua dikaitkan dengan hambatan yang lebih besar dalam penyelesaian PhD, dampak penelitian, dan keberlanjutan karier akademik dibandingkan dengan laki-laki. Perbedaan ini bukan sekadar persoalan apakah seorang ayah membantu mengasuh anak atau tidak, namun terdapat persoalan yang lebih mendalam terkait mental load pengasuhan yang tidak kasat mata dan sering kali dipikul oleh Perempuan.
Memulai perjalanan PhD dengan mata terbuka (As a mother, is PhD worth doing?)
Saya tidak menulis artikel ini untuk menakut-nakuti siapa pun yang ingin menempuh studi PhD. Keinginan untuk belajar, memberikan kontribusi yang orisinal, dan mengambil bagian dalam pengembangan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang patut diapresiasi dan didorong. Namun, saya selalu menyarankan para ibu yang ingin menjalani studi PhD agar memulai perjalanan dengan persiapan dan pemahaman yang memadai. Sentimen yang sama juga tercermin dengan kuat dalam hasil survey, dimana 74% responden menjawab pertanyaan apakah perjalanan PhD layak direkomendasikan dengan “pikirkan dengan matang” atau “hanya jika…”. Jawaban tersebut tidak menunjukkan penyesalan, tetapi sebuah kesadaran bahwa ada banyak tantangan dan halangan ketika studi doktoral harus dijalani bersamaan dengan peran sebagai orang tua.
Dengan mempertimbangkan tekanan sosial, finansial, dan keterbatasan waktu yang dihadapi oleh para ibu PhD, terdapat banyak hal yang perlu dipikirkan sebelum memulai perjalanan ini di Inggris. Pertama, persiapan finansial tentunya sangatlah penting. Biaya nursery, biaya perjalanan, dan berbagai pengeluaran tidak terduga lainnya dapat memberikan tekanan besar terhadap keuangan keluarga. Selain itu, calon PhD mothers juga perlu mempertimbangkan secara matang hubungan mereka dengan anak, pasangan, pembimbing, dan universitas. Bagaimana tanggung jawab pengasuhan akan dibagi? Apa yang akan terjadi jika anak sakit menjelang deadline atau supervision meeting? Apakah pembimbing benar-benar mendukung pengaturan kerja yang fleksibel? Apakah universitas menyediakan dukungan yang jelas dan mudah diakses bagi mahasiswa PhD yang memiliki anak? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini juga mesti dipikirkan dengan matang pada tahap persiapan.
Buku ini ditujukan sebagai sumber yang bermanfaat bagi siapa pun yang ingin mengetahui berbagai pengalaman dan tantangan yang mungkin muncul ketika seorang ibu memutuskan untuk menempuh studi PhD di Inggris. Tentu saja kisah-kisah yang dibagikan di buku ini tidak menggambarkan kehidupan sebagai PhD mothers sebagai perjalanan yang mudah. Namun yang lebih penting, kisah-kisah tersebut juga memperlihatkan tekad, kreativitas, keberanian, dan harapan yang menunjukkan bahwa para PhD mothers menemukan berbagai cara bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk berkembang dan bertumbuh. Mereka menegosiasikan dukungan yang dibutuhkan, mendefinisikan kembali makna produktivitas, mengembangkan bentuk-bentuk ketangguhan baru, dan membangun identitas akademik yang merangkul, bukan mengesampingkan, peran sebagai ibu.
Kami berharap pengalaman yang dihimpun dalam buku ini dapat memberikan wawasan sekaligus dorongan bagi calon PhD mothers maupun mereka yang sedang menjalani studinya. Lebih penting lagi, kami berharap kisah-kisah tersebut dapat membantu pembaca menjalani perjalanan PhD dengan harapan yang lebih realistis, persiapan yang lebih matang, serta kepercayaan diri untuk mencari dukungan yang memang layak mereka peroleh.